Saya masih menamakannya ibukota
Ketika siluetnya masih merangkul dalam
Dengan keeksotisan setiap liku
Saya mendesah pelan melirih penuh
Mata saya masih merujuk pada hakikatnya
Sebuah titik jenuh
Saya mencapai itu
Mencapai sebuah titik ketika saya cinta
Semakin dalam dan dia tidak
Saya masih melihat bayangnya
Bernama pusat kota
Di Roma saya masih melenguhkan gelaknya
Di paris saya masih membaui ciuman hangatnya
Dan di Jakarta saya mengingatnya pernah bercinta dengan orang lain
Dan disini di ibukota kecil ini saya masih meng-angankannya
Sampai kini saya masih memandang
Melihat setiap putaran siluet bayangnya
Ketika daun berguguran menyibak sedikit bayangnya
Dadungnya mulai terus menyendu dan hilang
Saya kehilangan lenguhan
Desahan dan gairahnya
Dan masih di ibukota itu
Saya masih merabanya
Meraba setiap detik tubuhnya
Untuk sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan
Arosuka, 19 Januari 2011
dan saya pun tidak tau apa arti ini
BalasHapushehehe