sesuatu yang seharusnya direnungi mungkin adalah sebuah masa yang telah terlewati. perjalanan panjang untuk berpacu dengan waktu dan menjalani setiap detik yang waktu beri untuk mencipta sebuah makna hingga nanti akan berujung pada sebuah kotak kuno yang bernama kenangan. kemaren saya bertemu dia dan menghabiskan banyak waktu hanya berdua. baik dan buruk itu yang terjadi kemaren, tadi malam, hari ini bahkan untuk waktu berjalan selanjutnya. dan itulah sebuah peran yang harus berlaku dalam nuansa bernama takdir dan sikap yang terambil fisik di bawah kolong langit.
tidak perlu lagi saya bertanya apa yang terjadi. kenapa saya begini dan dimana saya sebenarnya hingga takdir ini yang harus saya perankan. pada saat ini saya hanya bertemu dengan dia, perantara dan partner saya yang bersama saya membentuk dan menjalani alur yang mungkin telah berjalan atas nama takdir dan telah lebih dulu tertentukan sebelum saya benar-benar hadir dan bersimbah tangis ketika pertama kali saya menyapa dunia dengan satu hentakan nafas saya hingga duniapun pertama kali memberi sebuah penghidupan untuk saya dan ini akan terus berlanjut sampai saya pada akhirnya berhenti bernafas dan kembali ke sesuatu tempat yang katanya bernama akhirat.
dan ketika ada sebersit luka, inipun adalah bagian dari takdir yang saya jalani, termasuk hari ini ketika luka itu kembali sedikit terbuka dan sakit itu lagi yang terasa. tapi keteguhan hati saya tetap seperti awal. berada di titik ini dan menunggu sampai dia datang menyembuhkan luka ini perlahan karena sungguh saya tidak pernah bisa berpaling ketika saya telah memutuskan menetapkan hati saya pada sesuatu.
saya pernah mencoba berpaling tapi ternyata jiwa menolak dan seperti merobek semua kemunafikan ketika saya mencoba memaksa berpaling. dan akhirnya saya hanya ingin memberi keikhlasan untuk semua yang pernah terjadi karena setiap kejadian yang telah terjadi adalah karena kesediaan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar