Jumat, 21 Januari 2011

sepi

kadang saya berfikir entah seperti apa seharusnya hidup yang harus saya jalani. jenuh ada...pasrah dan putus asa apalagi. saya bingug bagaimana harus menyampaikan sebuah penyesalan dalam berambsi untuk mendapatkan sesuatu dan saat ini masih dalam usaha walaupun upya ini bernama bagaimana melupakan. saya memang kecewa dalam hidup saya namun saya juga harus bersyukur atas hidup yang ada sekarang. segalanya kadang hanya dari sebuah sumber yang saya beri nama kesepian.

Rabu, 19 Januari 2011

saya

Saya masih menamakannya ibukota
Ketika siluetnya masih merangkul dalam
Dengan keeksotisan setiap liku
Saya mendesah pelan melirih penuh
Mata saya masih merujuk pada hakikatnya
Sebuah titik jenuh
Saya mencapai itu
Mencapai sebuah titik ketika saya cinta
Semakin dalam dan dia tidak
Saya masih melihat bayangnya
Bernama pusat kota
Di Roma saya masih melenguhkan gelaknya
Di paris saya masih membaui ciuman hangatnya
Dan di Jakarta saya mengingatnya pernah bercinta dengan orang lain
Dan disini di ibukota kecil ini saya masih meng-angankannya
Sampai kini saya masih memandang
Melihat setiap putaran siluet bayangnya
Ketika daun berguguran menyibak sedikit bayangnya
Dadungnya mulai terus menyendu dan hilang
Saya kehilangan lenguhan
Desahan dan gairahnya
Dan masih di ibukota itu
Saya masih merabanya
Meraba setiap detik tubuhnya
Untuk sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan

Arosuka, 19 Januari 2011

saya

Saya masih menamakannya ibukota
Ketika siluetnya masih merangkul dalam
Dengan keeksotisan setiap liku
Saya mendesah pelan melirih penuh
Mata saya masih merujuk pada hakikatnya
Sebuah titik jenuh
Saya mencapai itu
Mencapai sebuah titik ketika saya cinta
Semakin dalam dan dia tidak
Saya masih melihat bayangnya
Bernama pusat kota
Di Roma saya masih melenguhkan gelaknya
Di paris saya masih membaui ciuman hangatnya
Dan di Jakarta saya mengingatnya pernah bercinta dengan orang lain
Dan disini di ibukota kecil ini saya masih meng-angankannya
Sampai kini saya masih memandang
Melihat setiap putaran siluet bayangnya
Ketika daun berguguran menyibak sedikit bayangnya
Dadungnya mulai terus menyendu dan hilang
Saya kehilangan lenguhan
Desahan dan gairahnya
Dan masih di ibukota itu
Saya masih merabanya
Meraba setiap detik tubuhnya
Untuk sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan

Arosuka, 19 Januari 2011

Senin, 10 Januari 2011

makna

sesuatu yang seharusnya direnungi mungkin adalah sebuah masa yang telah terlewati. perjalanan panjang untuk berpacu dengan waktu dan menjalani setiap detik yang waktu beri untuk mencipta sebuah makna hingga nanti akan berujung pada sebuah kotak kuno yang bernama kenangan. kemaren saya bertemu dia dan menghabiskan banyak waktu hanya berdua. baik dan buruk itu yang terjadi kemaren, tadi malam, hari ini bahkan untuk waktu berjalan selanjutnya. dan itulah sebuah peran yang harus berlaku dalam nuansa bernama takdir dan sikap yang terambil fisik di bawah kolong langit.
tidak perlu lagi saya bertanya apa yang terjadi. kenapa saya begini dan dimana saya sebenarnya hingga takdir ini yang harus saya perankan. pada saat ini saya hanya bertemu dengan dia, perantara dan partner saya yang bersama saya membentuk dan menjalani alur yang mungkin telah berjalan atas nama takdir dan telah lebih dulu tertentukan sebelum saya benar-benar hadir dan bersimbah tangis ketika pertama kali saya menyapa dunia dengan satu hentakan nafas saya hingga duniapun pertama kali memberi sebuah penghidupan untuk saya dan ini akan terus berlanjut sampai saya pada akhirnya berhenti bernafas dan kembali ke sesuatu tempat yang katanya bernama akhirat.
dan ketika ada sebersit luka, inipun adalah bagian dari takdir yang saya jalani, termasuk hari ini ketika luka itu kembali sedikit terbuka dan sakit itu lagi yang terasa. tapi keteguhan hati saya tetap seperti awal. berada di titik ini dan menunggu sampai dia datang menyembuhkan luka ini perlahan karena sungguh saya tidak pernah bisa berpaling ketika saya telah memutuskan menetapkan hati saya pada sesuatu.
saya pernah mencoba berpaling tapi ternyata jiwa menolak dan seperti merobek semua kemunafikan ketika saya mencoba memaksa berpaling. dan akhirnya saya hanya ingin memberi keikhlasan untuk semua yang pernah terjadi karena setiap kejadian yang telah terjadi adalah karena kesediaan saya.

Senin, 03 Januari 2011

Antara Aku, Kamu dan Dia

ANTARA AKU, KAMU DAN DIA

Pernah tidak saya mengecup
Kala itu saya sakit
Ketika wajah mu hanya sebuah fatamorgana
Ketika senja hanya menyumbang siluet
Dan matahari hanya sebuah sinar terang
Saya terhalang beribu perisai
Hanya sekedar untuk mengecup

Pernah tidak saya bercinta
Memaksa asa darimu untuk bersenggama
Beribu rona saya ingin tepis
Sebuah rautan menghindar
Ketika saya tidak mempesona birahimu

Pernah tidak saya melenguh
Menggapai sebuah puncak dan denyutan
Dan tetap
Pada saat itu saya inginmu

Pernah tidak saya berikrar
Antara saya dan kamu
Untuk tetap bersenggama menguntit
Tapi tanpa ada rasa setiap cacian meluncur dari barisan katamu
Dan jujur saya terluka

Pernah tidak saya berpaling
Belum ada dadung lain sebelum masa
Dan pernah tidak saya jujur
Pada masa ini saya bersama dia

Pernah tidak kamu sakit seperti saya
Pernah tidak kamu terluka seperti saya
Dan pernah tidak kamu hampir kehilangan rasa seperti saya
Dan apakah harus untuk masa ini
Saya mendua berada diantara ini
Antara aku, kamu dan dia