Minggu, 23 Oktober 2011

HANYA

hari ini, biasa lagi,,,senin yang mendung..dan lagi-lagi rasanya masih ada yang kurang.tetap perasaan itu berulang.. dan lagi-lagi itu hanya perasaan walaupun pernah, perasaan yang tidak nyaman itu juga berbuah buruk. dan akhirnya...huffff...i don't like monday...saya tidak suka hari senin karena terlalu banyak biasa pada hari itu. walau mungkin itu HANYA hari, tapi tak bukan itu HANYA hari

Rabu, 06 Juli 2011

mungkinkah lagi???

saya pernah bercerita tentang ini sebelumnya. tentang sebuah masa dimana saya berusaha sekuat hati dan fikiran untuk melupakanmu dan pada akhirnya dengan tertatih saya hampir melupakanmu. semua yang pernah ada dan semua kenangan ini. tapi tanpa tersadari dan entah apa maumu pada saat itu, dengan berani muncul lagi untuk mencoba memperbaiki lagi dan kali itu untuk sekian kalinya saya luluh...
namun...............apa mungkin kali ini itu terulang lagi??? ketika sakit lagi dan usaha lagi...tapi apakah saya masih sanggup dan memang saya ingin sanggup...ketika semua terulang lagi dan yang ada disamping itu ahanya kebodohan saya untuk terus mengulang cerita itu.

Senin, 14 Februari 2011

aku tak mau

tiada lagi
mau memmang tidak mau
pergi
jauh
tinggalkan
kita akan hidup masing-masing
aku punya hidup
tapi tidak selalu untukmu
karena bagimu
tidak ada aku atau kita
bagimu hanya ada kamu
maaf aku tidak mau

Sabtu, 05 Februari 2011

kamu lagi

Pada saat ini adalah sebuah fase yang sulit bagi saya. Berpuisi mungkin bukan sebuah jalan keluar atau mungkin pelampiasan. Sebelumnya mengungkapkan sebuah keterlukaan melalui puisi sangat gamppang bagi saya. Setiap merasakan sebuah kesakitan akan sangat gampang bagi saya merangkai beribu kata untuk mengungkapkan apa yang terasa dalam hati saya. Dan sekarang, saya sedang tidak ingin berpuisi. Saya ingin mencoba mengobati luka ini yang telah berulangkali terkoyak. Tertutup kemudian terbuka lagi oleh orang yang sama. Dan kali ini saya hanya ingin tetap tersenyum mengobati luka hati saya karena saya yakin, bukan dia orang yang pantas mendapatkan sebuah perhatian, cinta dan kasih sayang yang tulus dari saya. Dan sekali lagi bukan dia orang yang pantas mendapatkan semua itu karena saya juga berhak bahagia dan saya ingin bahagia.
Memang benar pada awalnya ini adalah kesalahan saya karena saya terlalu memaksakan dia dengan perasaan saya. Namun ketika saya mempunyai orang lain yang benar-benar menyayangi saya dan pada akhirnya juga saya sayangi kenapa dia tiba-tiba mengungkapkan hal yang dari awal sangat ingin saya dengar dari dia dan memaksa saya untuk meninggalkan orang yang menyayangi saya itu. Memang benar mungkin bahwa ini adalah sebuah karma bagi saya karena saya telah menyakiti hati orang yang begitu tulus menyayangi saya. Dan jika ada yang tahu pada saat saya menyakiti hati orang lain, saya menangis. Meratapi segala kebodohan saya.
Dan sebulan setelah itu saya mendapatkan dia kembali menyakiti saya. Menyakiti saya hingga pada saat ini saya sangat hancur. Hancur...namun saya hanya ingin tetap tersenyum menyembuhkan luka ini sendiri dan tidak ingin mengizinkan luka ini lagi ketika semuanya telah bisa saya atasi.
Haaahhhh….sudah saatnya mungkin untuk saya menata hidup saya lagi…melupakan semua kenangan dan luka yang telah dia buat untuk saya. Dan seeandainya suatu saat dia kembali menyesali ini, menyesali semua yang telah dia lakukan pada saya, saya ingin dia mengingat kata-kata ini
“kalo lu mau keluar, yang keluar aja”
“jangan libatkan gw dengan perasaan lo yang aneh itu”
dan setiap goresan yang ada di dinding kamar saya semuanya adalah untuk dia. Ketika saya benar-benar hancur oleh dia. Dan sekarang bukan saatnya untuk saya berargumen lagi tentang cinta, kasih sayang dan pengorbanan. Saya hanya ingin melupakan semua luka yang telah dia buat dan ciptakan. Dan mengenai ruang hati saya, saya ingin mengunci ruang itu tanpa membukanya lagi. Kunci itu telah saya hancurkan dan buang dan tidak tahu dengan apa ruang itu bisa terbuka lagi. Yang jelas saya memang tidak menginginkan lagi ruang itu terbuka.
Satu kata lagi:
“saya sudah punya pacar sekarang”
Dan mudah-mudahan dia bisa menyayangimu melebihi saya menyayangimu, mencintaimu melebihi rasa cinta yang saya punya untukmu, berkorban untukmu melebihi pengorbanan yang pernah saya berikan untukmu. Karena saya tidak ingin mengizinkan kamu menyakiti saya lagi dan untuk itu saya tidak akan pernah melakukan pengorbanan-pengorbanan itu lagi. Segalanya cukup. Lupakan saya yang pernah mencintaimu, menyayangimu dan berkorban segalanya untukmu karena saya akan melupakan semua yang pernah terjadi antara kita. Berbahagialah sayang!!! Berbahagialah beib!!! Karena suatu saat saya pun pasti akan bahagia mesti tidak bersamamu!

Jumat, 21 Januari 2011

sepi

kadang saya berfikir entah seperti apa seharusnya hidup yang harus saya jalani. jenuh ada...pasrah dan putus asa apalagi. saya bingug bagaimana harus menyampaikan sebuah penyesalan dalam berambsi untuk mendapatkan sesuatu dan saat ini masih dalam usaha walaupun upya ini bernama bagaimana melupakan. saya memang kecewa dalam hidup saya namun saya juga harus bersyukur atas hidup yang ada sekarang. segalanya kadang hanya dari sebuah sumber yang saya beri nama kesepian.

Rabu, 19 Januari 2011

saya

Saya masih menamakannya ibukota
Ketika siluetnya masih merangkul dalam
Dengan keeksotisan setiap liku
Saya mendesah pelan melirih penuh
Mata saya masih merujuk pada hakikatnya
Sebuah titik jenuh
Saya mencapai itu
Mencapai sebuah titik ketika saya cinta
Semakin dalam dan dia tidak
Saya masih melihat bayangnya
Bernama pusat kota
Di Roma saya masih melenguhkan gelaknya
Di paris saya masih membaui ciuman hangatnya
Dan di Jakarta saya mengingatnya pernah bercinta dengan orang lain
Dan disini di ibukota kecil ini saya masih meng-angankannya
Sampai kini saya masih memandang
Melihat setiap putaran siluet bayangnya
Ketika daun berguguran menyibak sedikit bayangnya
Dadungnya mulai terus menyendu dan hilang
Saya kehilangan lenguhan
Desahan dan gairahnya
Dan masih di ibukota itu
Saya masih merabanya
Meraba setiap detik tubuhnya
Untuk sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan

Arosuka, 19 Januari 2011

saya

Saya masih menamakannya ibukota
Ketika siluetnya masih merangkul dalam
Dengan keeksotisan setiap liku
Saya mendesah pelan melirih penuh
Mata saya masih merujuk pada hakikatnya
Sebuah titik jenuh
Saya mencapai itu
Mencapai sebuah titik ketika saya cinta
Semakin dalam dan dia tidak
Saya masih melihat bayangnya
Bernama pusat kota
Di Roma saya masih melenguhkan gelaknya
Di paris saya masih membaui ciuman hangatnya
Dan di Jakarta saya mengingatnya pernah bercinta dengan orang lain
Dan disini di ibukota kecil ini saya masih meng-angankannya
Sampai kini saya masih memandang
Melihat setiap putaran siluet bayangnya
Ketika daun berguguran menyibak sedikit bayangnya
Dadungnya mulai terus menyendu dan hilang
Saya kehilangan lenguhan
Desahan dan gairahnya
Dan masih di ibukota itu
Saya masih merabanya
Meraba setiap detik tubuhnya
Untuk sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan

Arosuka, 19 Januari 2011

Senin, 10 Januari 2011

makna

sesuatu yang seharusnya direnungi mungkin adalah sebuah masa yang telah terlewati. perjalanan panjang untuk berpacu dengan waktu dan menjalani setiap detik yang waktu beri untuk mencipta sebuah makna hingga nanti akan berujung pada sebuah kotak kuno yang bernama kenangan. kemaren saya bertemu dia dan menghabiskan banyak waktu hanya berdua. baik dan buruk itu yang terjadi kemaren, tadi malam, hari ini bahkan untuk waktu berjalan selanjutnya. dan itulah sebuah peran yang harus berlaku dalam nuansa bernama takdir dan sikap yang terambil fisik di bawah kolong langit.
tidak perlu lagi saya bertanya apa yang terjadi. kenapa saya begini dan dimana saya sebenarnya hingga takdir ini yang harus saya perankan. pada saat ini saya hanya bertemu dengan dia, perantara dan partner saya yang bersama saya membentuk dan menjalani alur yang mungkin telah berjalan atas nama takdir dan telah lebih dulu tertentukan sebelum saya benar-benar hadir dan bersimbah tangis ketika pertama kali saya menyapa dunia dengan satu hentakan nafas saya hingga duniapun pertama kali memberi sebuah penghidupan untuk saya dan ini akan terus berlanjut sampai saya pada akhirnya berhenti bernafas dan kembali ke sesuatu tempat yang katanya bernama akhirat.
dan ketika ada sebersit luka, inipun adalah bagian dari takdir yang saya jalani, termasuk hari ini ketika luka itu kembali sedikit terbuka dan sakit itu lagi yang terasa. tapi keteguhan hati saya tetap seperti awal. berada di titik ini dan menunggu sampai dia datang menyembuhkan luka ini perlahan karena sungguh saya tidak pernah bisa berpaling ketika saya telah memutuskan menetapkan hati saya pada sesuatu.
saya pernah mencoba berpaling tapi ternyata jiwa menolak dan seperti merobek semua kemunafikan ketika saya mencoba memaksa berpaling. dan akhirnya saya hanya ingin memberi keikhlasan untuk semua yang pernah terjadi karena setiap kejadian yang telah terjadi adalah karena kesediaan saya.

Senin, 03 Januari 2011

Antara Aku, Kamu dan Dia

ANTARA AKU, KAMU DAN DIA

Pernah tidak saya mengecup
Kala itu saya sakit
Ketika wajah mu hanya sebuah fatamorgana
Ketika senja hanya menyumbang siluet
Dan matahari hanya sebuah sinar terang
Saya terhalang beribu perisai
Hanya sekedar untuk mengecup

Pernah tidak saya bercinta
Memaksa asa darimu untuk bersenggama
Beribu rona saya ingin tepis
Sebuah rautan menghindar
Ketika saya tidak mempesona birahimu

Pernah tidak saya melenguh
Menggapai sebuah puncak dan denyutan
Dan tetap
Pada saat itu saya inginmu

Pernah tidak saya berikrar
Antara saya dan kamu
Untuk tetap bersenggama menguntit
Tapi tanpa ada rasa setiap cacian meluncur dari barisan katamu
Dan jujur saya terluka

Pernah tidak saya berpaling
Belum ada dadung lain sebelum masa
Dan pernah tidak saya jujur
Pada masa ini saya bersama dia

Pernah tidak kamu sakit seperti saya
Pernah tidak kamu terluka seperti saya
Dan pernah tidak kamu hampir kehilangan rasa seperti saya
Dan apakah harus untuk masa ini
Saya mendua berada diantara ini
Antara aku, kamu dan dia