Apa yang ada sekarang dalam hidup saya pada saat ini adalah sebuah perjalanan takdir saya sendiri. Namun dalam takdir ini tidak hanya ada saya atau aku. Tetapi ada banyak faktor yang ikut berperan dalam menciptakan sebuah cerita takdir saya ini. Setiap kesenangan, kesukaan,kedukaan bahkan tangis adalah begitu banyak factor yang ikut berperan.
Dan tanpa saya sadari banyak sekali orang-orang yang berwujud manusia yang ikut berperan dalam hidup saya. Hidup yang sebenarnya seperti panggung sandiwara kata sebuah lagu. Tapi saya mulai tidak setuju dengan ungkapan seperti ini. Hidup yang saya jalani tidak mungkin dapat saya putar ulang seperti sebuah drama. Tidak dapat saya gantikan dengan peran pengganti jika saya tidak menghendaki untuk melakukan salah satu adegan dalam peran saya. Atau mungkin jika saya tidak suka saya akan berlalu dan meninggalkan peran itu karena tidak saya sukai dan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam keinginan saya. Jika dalam sandiwara saya bisa memprotek diri saya dari hal-hal yang dapat melukai saya, dalam hidup dan takdir saya, saya tidak akan pernah bisa menghindar. Jika harus menangis, saya pasti akan menangis tanpa harus ditambah dengan air mata buatan. Jika harus tertawa saya pasti akan tertawa, tanpa harus mengingat semua hal yang dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak. Dan jika berdarah maka berdarah lah.
Dalam hidup yang mulai saya sadari bahwa ini adalah hidup saya, saya mulai mengerti dan berusaha untuk memahami apa yang ditakdirkan Tuhan untuk saya. Satu kalimat yang dari dulu berusaha saya selami “hanya padaku Tuhan menitipkan takdir seperti ini karena Dia sangat tahu bahwa hanyaaku yang bisa menjalani hidup seperti ini”. Sepertinya sangat sederhana sekali namun sangat sulit untuk diterima dan dijalani dengan ikhlas. Banyak hal seperti ketidaksanggupan dan ketidakterimaan atas takdir yang diberikanNya. Pertanyaan “kenapa gw g bisa seperti orang lain” sampai sekarang masih sering muncul ketika keegoisan berperan sangat kuat mengendalikan otak, otot dan seluruh persendian dan nadi yang berujung pada hentakan nafas.
Dan satu hal yang saya sadari dan harus saya mengerti adalah bahwa selama ini saya sering menutup mata dan berusaha menghindar dari semua masalah yang datang. Dan hal itu jugalah yang membuat saya menjadi seperti hilang dalam ranah yang seharusnya telah sangat saya mengerti. Sering mengendalikan dan mendustai diri saya tentang apa yang ada disekeliling saya bahkan hal yang tabu cenderung menjadi sebuah dongeng yang tidak mungkin terjadi dalam hidup saya. Pada detik ini dan pada umur ini untunglah saaya mulai mengerti, dosa dan pahala sebenarnya sejalan dengan semua tingkah dan takdir yang saya jalani dalam memenuhi tuntutan peran dalam hidup saya. Dalam setiap tindakan, ada dua resiko yang pasti akan saya dapatkan yang bernama dosa atau pahala itu sendiri.
Dosa dan pahala tentunya tercipta dari hubungan yang saya ciptakan dengan makhluk bernama manusia lainnya. Bahkan dengan semua komponen yang menyangkut dengan takdir yang saya jalani dan orang baik dan jahatlah yang bisa menjadi factor apakah saya akan menjadi baik dan buruk walaupun sebenarnya semuanya tergantung kepada saya sebagai peran utama dalam takdir saya.
Pada saat ini untunglah saya masih bisa tersenyum. Berada dalam lingkungan dan dekapan orang-orang terbaik (dalam bahasa saya) dalam hidup saya. Saya berada disekitar orang-orang yang care dan sayang dengan saya sebagai tokoh utama dalam takdir saya, yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Ingin sebenarnya mengenang mereka semua dalam tulisan ini. Namun tidak mungkin sepertinya saya tuliskan karena cerita takdir saya masih berjalan sampai akhirnya tugas saya untuk memerankan saya di dunia ini berakhir dengan lepasnya jiwa saya dari jasad ini. Dan hingga saat ini saya masih bersyukur atas manusia-manusia terbaik yang pernah saya rengkuh. Terutama seseorang yang sangat saya sayangi setelah ibu. Seseorang yang telah seperti teman, bahkan lebih dari saudara. Seseorang yang telah mengajari sesuatu yang sangat tidak ingin untuk saya jalani sebagai takdir saya. Seseorang yang telah menyadarkan saya bahwa tidak mungkin dan tidak ada gunanya menyalahi dan mempersalahkan semua jalan yang telah Tuhan takdirkan untuk saya. Sebuah jalan yang pada akhirnya belum saya ketahui karena saya sendiri tidak pernah diberi skenario untuk dihafal dan mudah-mudahan akan menjadi akhr bahagia. Karena “bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia???”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar