Yang saya tau sekarang adalah sebuah rasa terdalam yang saya miliki. Memang sebenarnya ini adalah harapan semu yang terus saya ukir menjadi nyata. Namun apa sebenarnya ini? Ketika terus ku coba ukir, siraman air nyata selalu berlalu membawa setiap goresan ukiran yang kutorehkan dalam kanvas angan dan asa.
Hendak ingin bercerita tentang semalam, saya sejenak duduk. Merenungi setiap arti degupan nafas yang terus berdegup kencang hanya gara-gara cerita sebuah mimpi yang entah itu sebuah firasat atau hanya sebuah episode fiksi bernama mimpi semu. Seperti nyata ketika faktanya dalam mimpi saya kehilangan dia. Seseorang yang akhir-akhir ini selalu menghabiskan banyak masa bersama saya.
Hingga akhirnya semua cerita itu mengalir. Degup kencang takut kehilangan tersampaikan karena pada hakikat nyatanya saya benar-benar takut kehilangan dia. Setidaknya ini yang saya rasakan sejak hari-hari kemarin sampai saat ini ketika saya duduk merenung melimpahkan apa yang dari tadi terus menerus mengobrak-abrik tatanan pikiran saya.
Ketika kehilangan itu memang harus terjadi, semua usai tanpa bekas, saya hanya ingin tetap hanya menyayangi dia. Berharap tidak untuk yang lain karena pada saat itu terjadi saya ingin mengunci rasa ini dalam histori hati yang paling saya kenang dan tidak ingin diobrak-abrik oleh sosok lain “bernama dia”.
Dan pada akhirnya saya hanya menyimpulkan, setidaknya saat ini saya dapat bahagia, dapat tersenyum dengan apa yang ada sekarang dan terima kasih telah pernah ada dalam perjalanan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar