Minggu, 05 Agustus 2012

When I Step On An Old Wall

dinding ini terlalu rapuh mengemban beban saya
rapuh menyeruak bunyi hampir patah tak beratur
penilaian angin atas waktu
apakah dia mengenali saya, ketika malam bergemericik sunyi
hanya jangkrik meributkan antah berantah suasana
sekali lagi, apakah mengenali saya dalam sunyi malam ketika detak jantung hanya bergetar menyebut nama
kenalilah saya diantara rumput liar diantara padang ilalang karena disana saya bergelitik diantara hijauan karena masa berubah biru
apa kenali saya ketika telapak kaki berjalan diantara kepingan dinding rapuh yang semakin tua
kenalilah saya ketika hembusan angin bergemiricik diantara rumpun bambu yang bergoyang terhembus angin karena pada waktu itu dadung batangan bambu itu masih menghembus sebuah nama...KAMU
dan kenalilah saya ketika air sungai terus beriak karena diantara batuan itu ada saya menyembunyikan riak rasa yang terus bergerak menyeruak KAMU

Mataku, Matamu, Mata Mata

sekelibat perasaan memang tidak pernah bisa disembunyikan dari apa yang disebut dengan penglihatan, setiap goresan perasaan tidak akan pernah bisa terlepas dari binaran mata yang membicarakan. dan pada saat ini dimana fase terdalam dari sebuah perjuangan bernama cinta telah karam membendung geliat rasa yang kadang jatuh terpaku menyeruak luka yang kembali berdarah.
dan dalam lambaian tangan saya pernah ada...dalam kata "pergilah dari hidup gw" saya pernah ada dan sangat dibutuhkan...dan sampai sekarang, dalam hampa kubangan saya pernah berasa ini mimpi dan dadung ini hanya untaian luka sementara untuk menguji rasa.
semua itu memang berumpama sebuah mangkuk kecil berisi rasa, setia, sayang dan pengharapan dan MATAKU telah memandang lemah dan sembab setiap ingat apa kamu pernah mengingat saya??? dan mangkuk kecil itu masih berada di tangan saya berimbang namun menyusut kusut dan retak mendarahkan tangan yang masih setia menampungnya bahkan jika pecah sekalipun nantinya.

MATAMU berperan mungkin, sebuah masa dimana semua ini seperti mata itu tidak pernah lagi saya lihat sendunya rasa untuk saya, manisnya untaian kata untuk saya, orang yang pernah ada dalam hidupmu. mata itu seperti terus bercahaya namun cahaya itu memang tidak disini membentuk untaian masa dulu dan jelas binarnya tak lagi menyentuh saya.

dan MATA MATA membentuk cakra baru, sebuah perumpamaan saya berjuang menatih menyeruak luka dan membubuhi bubuk mesiu lalu meledakkannya, menghancurkan masa untuk nantinya saya hilang dan mati.